Category Penyakit

Irritable Bowel Syndrome

Irritable bowel syndrome (IBS) merupakan gangguan yang berkaitan dengan sistem pencernaan. IBS bisa menimbulkan berbagai gejala, salah satunya termasuk diare.

Gejala

Seseorang yang mengalami irritable bowel syndrome bisa mengalami gejala sebagai berikut:

  • Kram atau sakit di bagian perut.
  • Kembung.
  • Diare atau konstipasi.
  • Sulit buang air besar.
  • Sering mengeluarkan angin.
  • Adanya lendir pada anus.
  • Tubuh terasa lelah.
  • Sulit menahan diri untuk buang air besar.
  • Mual.

Penyebab

Para peneliti belum dapat menemukan penyebab dengan pasti apa yang membuat seseorang mengalami IBS. Namun, berikut adalah faktor-faktor yang dapat memicu gangguan tersebut:

  • Kontraksi otot pada bagian usus

Dinding usus dilapisi dengan otot yang berkontraksi ketika memindahkan makanan melalui saluran pencernaan. Jika kontraksi dinding usus kuat dan dapat bertahan lebih lama dari biasa, maka bisa menyebabkan perut kembung dan diare. Jika kontraksi usus lemah, maka dapat memperlambat proses pencernaan makanan dan membuat feses kering dan keras.

  • Sistem saraf

Jika sistem saraf pada bagian perut mengalami kelainan, maka bisa menimbulkan ketidaknyamanan pada perut. Sinyal antara otak dan usus yang tidak bekerja dengan baik akan membuat tubuh bereaksi secara berlebihan terhadap perubahan yang terjadi pada proses pencernaan.

  • Peningkatan sistem kekebalan

Orang-orang yang mengalami IBS memiliki peningkatan jumlah sel sistem kekebalan pada bagian usus. Respons sistem kekebalan tubuh dipengaruhi oleh rasa sakit dan diare.

  • Infeksi berat

Seseorang bisa mengalami risiko yang lebih besar terhadap IBS setelah mengalami diare yang parah (gastroenteritis) karena virus atau bakteri. IBS juga dipengaruhi oleh jumlah bakteri yang berlebihan pada bagian usus.

Diagnosis

Jika Anda mengalami IBS, Anda sebaiknya periksa kondisi Anda ke dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan melakukan diagnosis. Dokter perlu mengetahui kondisi Anda terlebih dahulu sebelum melakukan tes fisik. Selain itu, dokter dapat melakukan tes tambahan berupa:

  • CT scan

CT scan dilakukan dengan menampilkan gambar struktur perut dan panggul pasien untuk mengetahui penyebab yang dialami pasien.

  • Kolonoskopi

Kolonoskopi dilakukan dengan menggunakan tabung kecil untuk memeriksa kondisi usus besar pasien.

  • Sigmoidoskopi fleksibel

Sigmoidoskopi fleksibel dilakukan dengan menggunakan tabung yang fleksibel dan terang untuk memeriksa bagian bawah usus besar pasien.

Pengobatan

Sampai saat ini, para peneliti belum menemukan obat yang tepat untuk mengatasi irritable bowel syndrome. Namun, jika pasien mengalami IBS, mereka dapat menggunakan obat yang dapat mengendalikan kejang otot, obat antikonstipasi, obat antidepresan, dan obat antibiotik.

Pencegahan

Selain menggunakan obat tersebut, pasien juga dihimbau untuk melakukan beberapa hal di bawah untuk mencegah irritable bowel syndrome:

  • Berolahraga secara teratur.
  • Tidak mengkonsumsi makanan pedas atau yang digoreng.
  • Tidak mengkonsumsi minuman berkafein.
  • Hindari kebiasaan stres.
  • Latihan relaksasi secara progresif.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda ingin bertemu dengan dokter, Anda sebaiknya persiapkan diri dengan beberapa hal di bawah:

  • Daftar pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami akibat irritable bowel syndrome.
  • Daftar makanan yang menyebabkan Anda mengalami IBS.

Ketika Anda berkonsultasi dengan dokter, dokter dapat menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala akibat IBS terjadi?
  • Apakah Anda mengkonsumsi makanan tertentu sehingga dapat membuat Anda mengalami IBS?
  • Apakah Anda sering mengalami gejala akibat IBS?

Kesimpulan

Irritable bowel syndrome merupakan gangguan yang perlu diwaspadai, karena dapat mempengaruhi kondisi manusia. Untuk mengatasi gangguan tersebut, Anda dapat menerapkan cara-cara yang disebutkan di atas. Untuk informasi lebih lanjut tentang irritable bowel syndrome, Anda bisa tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

Read More

Penanganan Gangguan Tidur Berjalan pada Anak

Gangguan tidur berjalan sangat umum terjadi pada anak-anak. Jika dibandingkan dengan orang dewasa, gangguan tidur berjalan lebih sering terjadi pada anak. Penderita gangguan ini seringkali tidak menyadari perilakunya.

Anak-anak cenderung berjalan dalam tidur dalam waktu satu atau dua jam setelah tertidur dan dapat berjalan selama beberapa detik hingga 30 menit. Biasanya ia akan sulit dibangunkan serta kemungkinan tidak akan mengingat kejadian yang dialaminya saat tidur. Saat terbangun, penderita mungkin merasa grogi dan disorientasi selama beberapa menit.

  • Tanda-tanda dan gejala gangguan tidur berjalan

Jika anak Anda berjalan dalam tidur, mereka akan bangun dari tempat tidur dan berjalan di sekitar kamar atau rumah mereka. Anak-anak yang lebih kecil cenderung berjalan ke arah orang tua atau sumber cahaya.

Seorang anak yang sangat kecil mungkin berkeliaran di sekitar ranjangnya atau bisa saja keluar rumah dan berkeliaran di luar rumah. Meski anak Anda benar-benar tertidur, ia bisa melakukan aktivitas seperti mengganti pakaian atau menata ulang benda yang ada di ruangannya.

  • Apa yang harus dilakukan saat anak Anda berjalan dalam tidur?

Jika Anda bangun dan menyadari bahwa anak Anda sedang berjalan dalam tidur, tetaplah tenang. Bimbing anak Anda kembali ke tempat tidur dengan cara yang menenangkan. Hindari membangunkan anak lantaran akan memicu mereka menjadi kesal atau marah. Tidak hanya itu Anda juga bisa melakukan beberapa tindakan di bawah ini untuk menangani gangguan tidur yang terjadi pada anak Anda:

Menerapkan sleep hygiene

Gangguan tidur berjalan umumnya dapat membaik dengan kuantitas dan kualitas tidur yang baik. Hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan sleep hygiene yang meliputi:

  • Menerapkan jadwal tidur siang dan tidur malam di waktu yang sama. Tidur siang untuk anak-anak dapat mencegah kondisi kurang tidur. Sementara membiasakan tidur malam di jam yang sama bisa membantu dalam mengatasi sulit tidur.
  • Lakukan rutinitas sebelum tidur seperti membacakan dongeng dan mendengarkan lagu yang menenangkan.
  • Menghindari konsumsi banyak air sebelum tidur. Tidur akan terganggu jika penderita ingin buang air kecil saat sedang terlelap.
  • Memastikan kamar dalam kondisi nyaman, tenang dan cukup gelap.
  • Memastikan lingkungan di sekitar penderita aman
  • Langkah ini bertujuan mencegah cedera ketika penderita mengalami gangguan tidur berjalan. Berikut langkah-langkah yang perlu dilakukan:
  • Mengamankan benda-benda tajam.
  • Memastikan tidak ada kabel di lantai yang dapat membuat penderita tersandung.
  • Jangan membiarkan penderita tidur di ranjang bertingkat.
  • Menutup dan mengunci semua jendela maupun pintu ketika penderita tidur.

Mengatasi kondisi yang memicu tidur berjalan

Gangguan tidur berjalan juga dapat disebabkan oleh demam atau kelelahan akibat aktivitas anak–anak. Jika gangguan tidur disebabkan oleh penyakit tertentu seperti demam, maka dokter akan memberikan penanganan terhadap penyakit tersebut.

Membimbing penderita kembali tidur di tempat tidur

Penderita yang sedang mengalami gangguan tidur berjalan boleh dibangunkan. Hal ini tidak berbahaya, tetapi penderita umumnya akan bangun dalam kondisi bingung. Oleh karena itu, penderita sebaiknya tidak dibangunkan dan dituntun kembali ke ranjangnya.

Melakukan teknik anticipatory awakenings

Teknik ini dilakukan pada anak yang sering mengalami gangguan tidur berjalan. Yang harus dilakukan orang tua yaitu mencatat jam tidur anak dan kapan sang anak mengalami gangguan tidur berjalan. Kemudian selama beberapa hari, orangtua diminta untuk membangunkan anak 15 menit sebelum waktu perkiraan gangguan tidur berjalan muncul.

***

Gangguan tidur berjalan merupakan kejadian yang terjadi pada waktu tidur yang mengakibatkan terganggunya perilaku yang biasa dialami oleh anak-anak. Gangguan tidur berjalan dapat diatasi dengan beberapa aktivitas seperti cukup tidur, bermeditasi atau melakukan latihan relaksasi, menghindari segala jenis rangsangan baik pendengaran atau visual sebelum tidur, dan menjaga lingkungan tidur yang aman. 

Read More

Tes Rasio Albumin untuk Deteksi Gangguan pada Ginjal

tes rasio albumin untuk mendeteksi gangguan ginjal

Sudah pernah mendengar tentang tes rasio albumin-kreatinin urine? Atau bahkan ternyata Anda pernah menjalani tes ini? Tes rasio albumin-kreatinin urine adalah jenis pemeriksaan medis yang dilakukan untuk mendeteksi gangguan pada ginjal.

Tes ini dilakukan dengan cara membandingkan jumlah albumin dengan jumlah kreatinin di dalam urine. Albumin adalah suatu jenis protein yang umumnya terdapat dalam darah, namun zat ini tidak akan terdeteksi jika ginjal berfungsi secara baik. Kreatinin adalah produk sisa dari metabolisme otot yang umumnya ditemukan pada urine dan menunjukkan konsentrasi urine. 

Kadar albumin pada umumnya diproduksi dalam jumlah yang bervariasi, namun kadar kreatinin bersifat tetap. Maka dari itu, tes rasio albumin dianggap lebih akurat dalam mengukur kadar albumin yang ada dalam urine. 

Dengan melakukan tes rasio albumin, risiko seseorang akan terkena gangguan ginjal dapat lebih dini dideteksi. Protein ini dapat ditemukan dalam urine pasien gangguan ginjal stadium dini. Melalui tes rasio albumin-kreatinin urine ini, dokter mampu melakukan skrining dan deteksi gangguan ginjal pada pasien dengan penyakit kronis bawaan, seperti diabetes dan hipertensi.

Siapa yang perlu melakukan tes rasio albumin-kreatinin urine?

Tes rasio albumin ini direkomendasikan pada pasien dengan kondisi bawaan penyakit diabetes dan hipertensi. American Diabetes Association menyatakan bahwa pasien dengan diabetes tipe 2 bahkan perlu melakukan tes rasio albumin-kreatinin urine setiap tahun. Sedangkan, pasien diabetes tipe 1 melakukan tes ini setiap lima tahun sekali. Pemeriksaan rasio albumin-kreatinin urine pada pasien hipertensi dapat dilakukan dengan interval tertentu, berdasarkan rekomendasi dokter. 

Selain itu, dokter juga akan menyarankan individu dengan kondisi tertentu, seperti yang disebutkan di bawah ini untuk melakukan tes rasio albumin-kreatinin urine:

  • Memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ginjal.
  • Kelompok usia senior, mulai dari 65 tahun ke atas dengan risiko penyakit jantung atau ginjal.
  • Kelompok individu dari ras Afrika-Amerika, Asia, Hispanik, dan India-Amerika, yang dianggap lebih rentan mengalami penyakit ginjal.

Bagaimana hasil tes rasio albumin-kreatinin urine pada pasien?

Hasil rasio tes albumin-kreatinin urine ditunjukkan dalam satuan mikrogram per milligram kreatinin (mcg/mg). 

Jika hasil tes rasio albumin-kreatinin menunjukkan angka di bawah 30 mcg/mg kreatinin, maka hasil tersebut dikategorikan sebagai normal. Jika terdapat peningkatan albumin sebesar 30-300 mcg/mg, hal tersebut mengindikasikan adanya kondisi mikroalbuminuria, yaitu peningkatan jumlah albumin di atas nilai normal, namun belum dapat terdeteksi pada pemeriksaan protein urine total. Sedangkan, peningkatan albumin lebih besar dari 300 mcg/g menandakan kondisi makroalbuminuria, yaitu adanya peningkatan albumin berat yang juga ditandai dengan menurunnya lanjut filtrasi ginjal (GFR). 

Tindakan apa yang perlu dilakukan jika hasil tes rasio albumin-kreatinin urine tidak normal?

Awalnya dokter akan merekomendasikan pasien untuk melakukan pemeriksaan kembali untuk mengonfirmasikan hasil tes, jika terdapat albumin dalam urine pasien. Lalu, jika hasil tes yang kedua kalinya menunjukkan adanya albumin dalam urine, dokter akan mendiagnosis pasien mengalami gangguan ginjal stadium dini.

Jika hasil tes urine albumin terus menunjukkan kadar albumin yang tinggi, pasien didiagnosis mengalami gagal ginjal. Dalam kasus ini, dokter akan melakukan pemeriksaan dan prosedur medis lebih lanjut untuk mencegah timbulnya komplikasi gagal ginjal.

Sebagai catatan, kadar rendah albumin dalam urine, tidak selalu menandakan adanya penyakit ginjal pada pasien. Adanya infeksi saluran kemih dan faktor kesehatan lain turut berperan menjadi penyebab hasil tes tersebut. Tentunya, dokter akan mendiskusikan hasil pemeriksaan bersama pasien secara transparan untuk menjelaskan kondisi kesehatan yang sebenarnya secara rinci.

Read More

Kenali 7 Penyebab Utama Brain Fog

Brain fog atau mudah lupa tampaknya hal yang pernah dialami seseorang dan ini adalah wajar terjadi. Sesekali, Anda mungkin pernah lupa ketika ingin melakukan tindakan tertentu, seperti mengatakan, meletakkan, atau mengambil sesuatu. Padahal, Anda ingat betul di awal ingin melakukan apa, tapi ketika akan dilakukan, tiba-tiba hilang begitu saja dari ingatan Anda. Brain fog sebenarnya bukanlah kondisi medis yang membahayakan. Hanya saja, gejalanya dapat membuat Anda kehilangan konsentrasi, berusaha mengingat kembali ingatan Anda, dan menyebabkan kelelahan mental.

Mengenal brain fog.

Brain fog (kabut otak) merupakan ketidakmampuan seseorang untuk mengingat sesuatu dengan fokus dan tajam. Kondisi ini bisa meliputi gangguan memori, penurunan konsentrasi, dan tidak fokus. Tidak jarang pula, orang menganggap mudah lupa terjadi akibat kondisi mental yang terlalu lelah. Kabut otak yang terjadi sesekali masih dianggap hal yang wajar, tetapi jika terjadi terlalu sering, barulah Anda patut waspada.

Gejala umum brain fog.

Brain fog tidak mengenal usia muda atau tua, siapa saja bisa mengalami kondisi ini. Gejala utama adalah Anda jadi mudah lupa dan gagal fokus. Gejala penyerta lainnya seperti tubuh mudah lelah, lemas, dan sering pusing. Sering pula, hal ini memengaruhi kondisi mental orang yang mengalaminya.

Penyebab brain fog.

Dilansir dari Harvard Health Publishing, penyebab umum seseorang mengalami brain fog adalah sebagai berikut.

  • Efek samping obat tertentu.

Mungkinkah Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu? Ini bisa menjadi faktor penyebab Anda mengalami brain fog. Salah satu jenis obat yang memiliki efek samping kabut otak atau mudah lupa ini adalah antikoligernik. Obat ini dapat menghambat efek neurotransmitter yang bertanggung jawab untuk stimulasi dan aktivitas di otak, sehingga dapat mengakibatkan kebingungan.

Golongan obat yang termasuk antikolinergik adalah obat bebas, seperti oxybutynin (Ditropan) untuk inkontinensia dan diphenhydramine (Benadryl) untuk alergi. Selain itu, obat resep, seperti amitriptyline (Elavil) untuk depresi dan cyclobenzaprine (Flexeril) untuk kejang otot. Sementara itu, obat apa pun yang memiliki efek sedatif juga dapat mengganggu konsentrasi, seperti obat tidur.

  • Kurangnya asupan zat gizi vitamin B12.

Kekurangan vitamin B12 juga dapat memengaruhi fungsi otak. Vitamin B12 berperan penting untuk menjaga darah dan saraf tetap sehat. Anda bisa memenuhi asupan vitamin B12 dari daging, telur, serat susu dan produk olahannya. Sayangnya, seiring bertambahnya usia, kemampuan tubuh untuk menyerap vitamin B12 juga akan semakin sulit. Inilah yang menyebabkan ketersediaan vitamin B12 dalam darah jadi rendah. Akibatnya, Anda jadi lebih mudah mengalami brain fog.

  • Stres atau depresi.

Menurut para ahli, perasaan cemas, khawatir, stres berlebihan hingga depresi dapat menyebabkan seseorang mengalami brain fog. Hal ini disebabkan karena terganggunya kondisi mental, sehingga menghambat kemampuan Anda untuk berpikir jernih atau membuat keputusan.

Di sisi lain, kondisi stres kronis atau chronic fatigue syndrome (CFS) juga bisa mengganggu daya ingat Anda. Dalam kondisi tersebut, tubuh dan pikiran Anda merasa lelah untuk waktu yang lama, akibatnya jadi mudah bingung, pelupa, dan hilang fokus. Hingga saat ini, belum ada obat khusus yang dapat menyembuhkan CFS. Anda bisa mengatasinya dengan banyak berolahraga, terapi, dan berkonsultasi dengan dokter.

  • Penurunan fungsi kelenjar tiroid.

Para ahli meyakini bahwa kelenjar tiroid yang tidak aktif dapat memengaruhi kemampuan otak seseorang dalam mengingat sesuatu. Saat kelenjar tiroid Anda tidak menghasilkan hormon tiroid yang cukup, yaitu tiroksin (T4) dan triiodothyronine (T3), maka fungsi organ tubuh menjadi lamban, termasuk otak. Akibatnya, seseorang mudah mengalami brain fog atau kabut otak.

  • Apnea tidur obstruktif.

Apnea tidur obstruktif adalah kondisi seseorang mengalami henti napas secara berkala saat tidur. Gejala umumnya adalah rasa kantuk di siang hari. Gejala lainnya adalah mendengkur dengan keras dan terengah-engah. Anda harus waspada karena sleep apnea ini dapat meningkatkan risiko penyakit stroke dan jantung. Ini juga yang menjadikan Anda sering mengalami brain fog atau pemikiran kabur.

  • Penuaan otak yang sehat (healthy brain aging).

Brain fog sering pula terjadi akibat otak mengalami penuaan secara alami karena faktor usia. Tidak jarang, Anda akan melihat orang tua sering lupa meletakkan kacamata, apa yang Anda katakan kepadanya, atau kejadian lainnya. Ini adalah hal yang wajar terjadi selama tidak mengganggu fungsi otak secara menyeluruh.

  • Kondisi medis tertentu.

Ada beberapa kondisi tertentu seperti kehamilan, menopause, penyakit multiple sclerosis (MS), dan lupus yang dapat mengganggu kemampuan otak dalam mengingat sesuatu. Jika brain fog dipicu oleh kondisi tersebut, ada baiknya Anda melakukan pemeriksaan langsung dan berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.  

Inilah 7 faktor penyebab brain fog yang mungkin saja Anda alami. Kabut otak bisa membuat penderitanya mengalami frustrasi dan berdampak pada penurunan kualitas hidup, termasuk kesehatan mental dan produktivitas Anda sehari-hari. Maka dari itu, jika gejala yang muncul sudah cukup sering, maka segeralah lakukan pengobatan untuk mengatasinya.

Read More

Kenali Gejala dan Penyebab Asitesis

Asitesis adalah penumpukan cairan di perut. Penumpukan cairan ini menyebabkan pembengkakan yang akan membesar dalam waktu beberapa minggu, meskipun dalam kasus-kasus tertentu dapat memakan waktu beberapa hari saja. Asites merupakan kondisi yang sangat tidak nyaman dan dapat menyebabkan penderitanya pusing, lelah, sulit bernapas, dan terus menerus merasa kenyang. Penyakit hati merupakan penyebab utama asites. Selain itu, penyakit kanker dan gagal jantung juga berisiko menyebabkan penyakit ini. Dalam artikel ini, penulis akan mencoba menjelaskan gejala dan penyebab asites yang perlu Anda waspadai.

Penyebab asites

Asitesis terjadi ketika cairan berkumpul dan terus tertampung di perut. Penumpukan ini terjadi di antara dua lapisan selaput yang menjadi peritoneum, kantung halus yang mengandung organ-organ tubuh. Merupakan hal yang wajar dan normal untuk memiliki cairan dalam jumlah kecil di rongga peritoneum.

Banyak penyakit yang menyebabkan asites, termasuk TBC, penyakit ginjal, pancreatitis, dan thyroid yang kurang aktif. Akan tetapi, penyebab utama asites adalah gagal jantung, sirosis, dan kanker. Asites dapat berkembang apabila kanker memengaruhi peritoneum, hati, ovarium, payudara, usus, lambung, pankreas, paru-paru, dan sistem kandung kemih.

Gejala asites

Asites sering menyebabkan rasa sakit. Selain itu, orang-orang yang menderita penyakit ini juga akan merasa pusing, kurang lapar dibanding biasanya, lelah, konstipasi, dan sering buang air kecil. Retensi cairan menyebabkan tekanan pada organ-organ bagian dalam, yang sering menyebabkan seseorang merasa tidak nyaman. Asites juga dapat menyebabkan perut kembung, rasa sakit pada perut dan punggung, dan membuat seseorang kesulitan untuk duduk dan bergerak.

Faktor risiko asites

Kerusakan hati merupakan faktor risiko terbesar penyakit asites. Beberapa penyebab kerusakan hati di antaranya adalah sirosis, hepatitis B atau C, dan riwayat penggunaan alkohol yang berlebihan. Kondisi-kondisi lain yang dapat meningkatkan risiko untuk menderita asites di antaranya adalah knker endomametrial, hati, pankreas, dan ovarium; gagal jantung atau ginjall; TBC dan pankreatitis; serta hypothyroidism.

Gejala-gejala penyakit asites dapat muncul dengan perlahan ataupun tiba-tiba, tergantung penyebab penumpukan cairan tersebut. Gejala yang muncul juga bukan serta-merta merupakan tanda adanya kegawatdaruratan medis. Namun, berkonsultasilah dengan dokter apabila Anda mengalami hal-hal seperti perut yang membengkak, pertambahan berat badan yang tiba-tiba, kesulitan bernapas saat berbaring, hilangnya nafsu makan, rasa sakit pada perut, kembung, mual dan muntah, serta maag. Penting untuk diingat bahwa gejala asites dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi lain.

Komplikasi akibat asites

Beberapa jenis komplikasi yang dihubungkan dengan asites di antaranya adalah rasa sakit pada perut; pleural effusion, ada dikenal dengan kondisi “air di paru-paru”, yag dapat menyebabkan kesulitan bernapas; hernias; infeksi bakteri; dan sindrom hepatorenal, sebuah jenis kegagalan ginjal progresif.

Asitesis tidak dapat dicegah. Akan tetapi, Anda dapat menurunkan risiko menderita asites dengan melindungi hati Anda. Untuk memiliki hati yang sehat dan terhindari dari komplikasi penyakit, Anda bisa mengikuti gaya hidup sehat, misalnya tidak mengonsumsi alkohol dalam jumlah berlebih (hal ini dapat membantu mengurangi sirosis). Selain itu, penting untuk mendapatkan vaksinasi hepatitis B dan menggunakan kondom saat berhubungan seksual (penyakti hepatitis dapat ditularkan lewat hubungan seks). Anda juga dilarang berbagi jarum suntik karena hepatitis dapat ditularkan lewat penggunaan jarum suntik yang tidak higienis. Terakhir, ketahui potensi efek samping dari obat-obatan yang Anda konsumsi. Apabila kerusakan hati merupakan sebuah risiko yang Anda miliki, konsultasi dengan dokter apakah fungsi hati Anda perlu diperiksa atau tidak.

Read More

Terapi Sinar Gamma

Terapi sinar gamma adalah jenis terapi yang diterapkan untuk mengatasi berbagai gangguan otak, termasuk tumor otak. Terapi sinar gamma terdapat risiko yang minim dalam prosedurnya dan tidak membutuhkan sayatan atau pembiusan pada pasien.

Terapi sinar gamma menggunakan jaring dan sekitar 200 sinar radiasi yang dipancarkan ke bagian otak yang diderita pasien. Oleh karena itu, terapi sinar gamma merupakan salah satu prosedur yang lebih aman untuk dilakukan.

Kelebihan Terapi Sinar Gamma

Jika pasien yang mengalami gangguan otak dan perlu diatasi, maka terapi sinar gamma dapat dilakukan. Berikut adalah kelebihan yang diperoleh dari terapi sinar gamma:

  • Prosedur yang sangat akurat karena sinar gamma langsung menargetkan pada tumor.
  • Area di sekitar otak tidak akan terkena radiasi.
  • Meskipun terapi sinar gamma berlangsung setidaknya 10 menit hingga 1 jam, pasien hanya perlu melakukan prosedur ini sekali.
  • Mampu menangani berbagai masalah pada otak, termasuk kanker otak.
  • Pasien dapat menghindari komplikasi perdarahan atau infeksi.
  • Pasien hampir tidak merasa sakit setelah menjalani terapi sinar gamma.
  • Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit setelah menjalani terapi sinar gamma.
  • Pasien dapat beraktivitas dengan normal dalam waktu 1 hingga 2 hari.

Secara umum, dokter dapat menangani pasien jika pasien mengalami gangguan otak sebagai berikut:

  • Tumor otak

Pasien yang mengalami tumor otak dapat ditangani dengan terapi sinar gamma. Radiasi sinar gamma dapat merusak DNA pada sel-sel tumor sehingga tumor berkurang secara bertahap.

  • Malformasi arteri vena

Malformasi arteri vena adalah kelainan yang terjadi pada pembuluh darah arteri dan vena. Malformasi arteri vena dapat menimbulkan seseorang mengalami stroke dan perdarahan pada bagian otak jika kondisinya tidak ditangani dengan seksama.

  • Trigeminal neuralgia

Trigeminal neuralgia terjadi karena adanya gangguan pada satu atau dua saraf trigeminal. Jika pasien mengalami kondisi ini, mereka akan merasakan gejala nyeri seolah-olah mereka tersengat listrik pada bagian wajah.

  • Neuroma akustik

Neuroma akustik adalah tumor jinak yang terjadi pada bagian saraf yang menghubungkan telinga bagian dalam dan otak. Neuroma akustik dapat memicu gangguan pendengaran, pusing, dan telinga berdengung.

  • Beberapa jenis epilepsi

Terapi sinar gamma dapat dilakukan jika pasien mengalami beberapa jenis epilepsi seperti epilepsi lobus temporal. Terapi sinar gamma dapat mengendalikan kejang-kejang pada pasien epilepsi dalam jangka panjang.

Persiapan Sebelum Melakukan Terapi Sinar Gamma

Ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan jika Anda mengalami gangguan otak dan ingin menjalankan terapi sinar gamma. Berikut adalah beberapa hal yang perlu Anda perhatikan:

  • Beritahu dokter jika Anda mengkonsumsi obat-obatan dan punya reaksi alergi tertentu.
  • Berpuasa dengan tidak makan atau minum pada malam sebelum melakukan terapi sinar gamma.
  • Keramas pada malam sebelum menjalani terapi sinar gamma.
  • Pakai baju dengan kancing depan pada saat Anda menjalani terapi sinar gamma untuk memudahkan prosesnya.

Efek Samping Terapi Sinar Gamma

Meskipun terapi sinar gamma adalah salah satu prosedur yang aman untuk dilakukan, Anda perlu pahami bahwa terapi sinar gamma juga dapat menimbulkan efek samping berupa sakit kepala ringan, mual, muntah, dan kesemutan di kepala.

Terapi sinar gamma berbeda dengan prosedur medis lain dimana prosedur lain memerlukan sayatan atau pembiusan. Terapi sinar gamma tidak menggunakan salah satu cara tersebut untuk meminimalkan risiko perdarahan atau infeksi pada otak. Meskipun demikian, Anda perlu tanya dokter jika Anda mengalami gangguan otak, untuk mengetahui jika Anda adalah kandidat yang cocok untuk terapi tersebut.

Read More

Ini Penjelasan Tes Demam Berdarah NS1

Demam berdarah merupakan salah satu penyakit yang mematikan di Indonesia, tentunya hal ini sangat perlu diwaspadai. Untuk mengetahui seseorang terkena penyakit demam berdarah, terdapat beberapa tes yang bisa dilakukan, salah satunya tes demam berdarah NS1. Dimana proses yang dilakukan untuk tes ini menggunakan protein yang disebut dengan nama NS1.

Yang dimaksud dengan NS1 merupakan sejenis protein yang terdapat di dalam virus dengue, protein ini akan muncul ketika infeksi terjadi. Virus akan mengeluarkan protein yang nantinya masuk ke dalam darah, nantinya pada saat pasien dinyatakan positif demam berdarah, protein ini akan terbaca di dalam darah pasien.

Tes Demam Berdarah NS1

Penyakit demam berdarah merupakan salah satu penyakit berbahaya dan bisa berakibat fatal pada seseorang yang terjangkit. Diperlukan pemeriksaan laboratorium yang tepat untuk bisa dilakukan proses pemeriksaan secara cepat guna menunjang diagnosis. Hal ini ditujukan agar bisa dengan segera diambil langkah tindak lanjut terhadap pasien.

Untuk mendapatkan diagnosis secara akurat, cepat, tepat dan efisien terhadap penyakit demam berdarah serta munculnya deteksi dini terhadap virus dengue yakni dengan melakukan tes antigen NS1 dengue. Keunggulan pemeriksaan ini bisa memastikan seseorang terjangkit demam berdarah dengan cepat.

Tes antigen NS1 bisa juga disebut dengan protein nonstruktural 1 merupakan tes yang diperuntukkan diagnosis infeksi virus dengue. Merupakan tes diagnosis yang bisa mendeteksi sangat cepat di hari pertama demam atau juga pada saat munculnya antibodi pada lima hari atau lebih dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi, metode yang dipakai adalah tes immunosorbent enzim-linked.

Dalam ilmu kedokteran modern, NS1 bisa dikatakan sebagai modalitas terapi yang sangat membantu penegakan diagnosis terhadap infeksi virus dengue yang muncul dalam waktu empat hari pertama ketika pasien mulai mengalami demam. Penggunaan tes ini dilakukan karena keuntungan yang diberikan ketimbang metode lain.

Keuntungan pasien yang menggunakan tes ini adalah mengetahui adanya infeksi dengue yang menginfeksi pada penderita di awal masa demam, tanpa harus menunggu muncul atau terbentuknya antibodi tubuh. Dengan ini, pasien dapat langsung melakukan terapi suportif, dokter juga bisa melakukan pemantauan terhadap pasien.

Selain itu, dengan perawatan yang diberikan maka pasien bisa mengurangi risiko komplikasi atau disebut dengan dengue shock syndrome. Mengingat risiko komplikasi ini bisa berdampak fatal bagi para penderita, bahkan hingga menyebabkan kematian pada seorang pasien. Hal inilah yang membuat pemeriksaan NS1 penting digunakan.

World Health Organization (WHO) telah memperkirakan sekitar 50 hingga 100 juta kasus infeksi virus ini terjadi di setiap tahunnya. Kondisi ini terjadi baik di daerah tropik dan subtropik, setidaknya terdapat 24 ribu nyawa melayang setiap tahunnya karena penyakit ini. Termasuk di Indonesia, penyakit demam berdarah merupakan masalah utama kesehatan.

Dengan adanya pemeriksaan cepat guna diagnosis dengan menggunakan tes demam berdarah NS1, diharapkan adanya penurunan jumlah kasus dan korban meninggal. Gejala yang ditimbulkan penyakit ini memang sangat mirip dengan beberapa jenis penyakit demam lainnya, namun hal inilah yang membuat diagnosis penyakit harus memperoleh yang sangat akurat.

Diagnosa demam berdarah dilakukan dengan cara anamnesis penderita, kemudian pemeriksaan fisik yang kemudian dipertegas dengan pemeriksaan laboratorium. Peranan pemeriksaan laboratorium sangat penting dalam memberikan diagnosis DBD, dalam hal ini tes NS1 merupakan pemeriksaan laboratorium dengan akurasi dan presisi yang tinggi.

Read More

Pengertian dan Gejala Penyakit Kawasaki

Merupakan sebuah jenis penyakit peradngan yang ditimbulkan karena komplikasi jangka panjang pada jantung disebut dengan penyakit kawasaki. Pada umumnya, penyakit ini dialami dan bahkan sering menyerang anak di bawah usia lima tahun. Penyakit ini menyerang mulut, kulit dan kelenjar getah bening.

Anak yang menderita penyakit ini biasanya akan mengalami demam yang berlangsung selama lebih dari tiga hari. Biasanya ditandai dengan munculnya ruam pada kulit berwarna merah, ruam ini hampir muncul di seluruh bagian tubuh si bayi. Untuk bisa mencegah peradangan, diperlukan penanganan dengan segera ketika gejala begitu muncul.

Penyakit Kawasaki

Penyebab munculnya penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun gejala awalnya mirip dengan penyakit infeksi meski hal ini belum bisa dibuktikan bahwa kemungkinan penyakit ini muncul karena infeksi. Yang perlu diketahui adalah penyakit ini tidak menular dari satu orang ke orang lainnya dengan cara apa pun.

Dugaan lain munculnya penyakit ini adalah kelainan genetik yang bisa menjadi faktor penyebabnya, bisa dai orang tua. Namun, berdasarkan sebuah penelitian, penyakit ini lebih berisiko dan sangat rentan dialami anak di usia balita. Selain itu, penyakit ini juga rentan menyerang anak-anak balita berjenis kelamin laki-laki.

Gejala Penyakit

Tidak ada pemeriksaan khusus yang dilakukan dalam menentukan seorang anak terjangkit penyakit ini. Namun, penyakit ini muncul dalam tiga tahap dan akan berlangsung selama kurang lebih satu setengah bulan. Adapun penjelasan mengenai tiga tahap munculnya penyakit ini adalah sebagai berikut.

  1. Tahap Pertama

Munculnya gejala penyakit ini dalam tahap pertama terjadi pada minggu pertama hingga minggu kedua, ketika memasuki tahap ini terdapat beberapa gejala yang akan muncul dan dialami oleh si anak, berikut beberapa gejala yang akan dialami oleh anak yang terjangkit penyakit ini.

  • Anak akan mengalami demam dan kondisi ini akan berlangsung selama lebih dari tiga hari dan bisa bertambah.
  • Bibir dan lidah anak akan tampak dan terasa kering lalu muncul warna kemerahan hingga pecah-pecah.
  • Munculnya ruam berwarna kemerahan yang terdapat di hampir seluruh bagian tubuh.
  • Pada telapak tangan dan kaki anak akan membengkak dan berwarna merah.
  • Mata si anak juga akan memerah tetapi tidak disertai dengan keluarnya cairan.
  • Munculnya benjolan di leher anak, ini diakibatkan terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Tahap Kedua

Gejala yang akan muncul di tahap kedua penyakit ini pada umumnya terjadi di minggu kedua hingga minggu keempat. Sama seperti di tahap pertama, anak yang terjangkit penyakit ini akan mengalami beberapa kondisi, di antaranya adalah diare, muntah, sakit kepala, muntah, tubuh terasa lelah, merasa nyeri dan terjadi pembengkakan pada sendi.

Selain itu, kulit pada anak di bagian tangan dan kaki juga akan terkelupas, kemudian terdapat kulit dan bagian putih mata tampak menguning hingga terdapat nanah pada urine anak. Setelah tahap ini, gejala akan memasuki tahap ketiga yang terjadi pada minggu keempat hingga minggu keenam, ditandai dengan meredanya gejala.

Meski demikian, kondisi anak masih tetap lemas dan mudah merasa lelah, si anak butuh setidaknya waktu hingga delapan minggu hingga kondisi anak kembali normal. Penyakit kawasaki merupakan penyakit yang bisa menimbulkan kerusakan jantung permanen, hal inilah yang membuat para orang tua segera membawa anaknya ke dokter untuk penanganan lebih lanjut setelah muncul gejala.

Read More

Orang-Orang yang Disarankan Lakukan Pemasangan Ring Jantung

Pemasangan ring jantung harus diikuti dengan gaya hidup sehat untuk menjaga kesehatan jantung di kemudian hari.

Sebagai salah satu kondisi medis dengan tingkat mortalitas yang tinggi, penyakit jantung selalu punya posisi khusus di dunia kedokteran. Penelitian dan pengembangan-pengembangan terkait penyakit ini selalu dilakukan. Tujuannya tidak lain untuk memberi harapan hidup yang tinggi kepada para pengidapnya. Salah satu metode medis yang paling umum dan sering dilakukan untuk mengatasi gangguan jantung adalah pemasangan ring jantung. Apa, sih, pemasangan ring jantung ini?

Pemasangan ring jantung atau angioplasti koroner adalah prosedur yang dilakukan dengan tujuan membuka pembuluh darah arteri yang mengalami penyumbatan. Tindakan medis ini umumnya dikombinasikan dengan pemasangan jaring kecil atau ring jantung yang disebut sebagai stent.

Pemasangan ring jantung dilakukan dengan menggunakan kateter kecil yang dilengkapi balon untuk nantinya dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang tersumbat atau buntu. Tujuannya untuk memperlebar pembuluh darah, sehingga aliran darah menjadi lancar. Ring jantung dipasang supaya pembuluh darah arteri tetap terbuka, mencegah terjadinya penyempitan ulang, dan telah melapisinya dengan obat-obatan agar pembuluh darah arteri tetap terbuka.

  • Kelompok Orang yang Membutuhkan Pemasangan Ring Jantung

Pemasangan ring jantung digadang-gadang dapat menyelamatkan nyawa pasien yang punya kondisi tertentu, khususnya punya riwayat serangan jantung. Hal ini diungkapkan langsung oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Vito A. Damay, “Kalau pasien punya riwayat serangan jantung jelas memerlukan pemasangan ring. Ini karena dapat menyelamatkan nyawa.”

Selain orang yang memiliki riwayat serangan jantung, stent atau ring jantung mungkin juga diperlukan oleh kelompok pasien tertentu, antara lain yang sering merasa sakit di bagian dadanya; pegal atau berat saat beraktivitas dan berkurang pegalnya saat istirahat; serta sesak pada pasien dengan kegagalan fungsi jantung (gagal jantung) atau lemah jantung.

Nah, pemasangan ring jantung ini bisa menurunkan risiko untuk terjadinya serangan jantung. “Selain itu, ring jantung untuk memperbaiki aliran darah ke otot jantung yang lemah dan mempertahankan fungsi jantung. Hal ini juga mengurangi keluhan yang ada, misal nyeri. Kualitas hidup pasien akan meningkat,” kata Vito, menambahkan.

  • Mekanisme Pemasangan Ring Jantung

Dalam pelaksanaannya, proses pemasangan ring jantung mula-mula diawali dengan menjalani pemeriksaan kateterisasi jantung. Kateterisasi jantung dilakukan dengan menggunakan pipa kecil yang dimasukkan ke pembuluh darah pada area pergelangan tangan atau lipat paha, hingga ke pangkal pembuluh darah koroner pada jantung.

Setelah kateter masuk, sebuah kabel penuntun kemudian dimasukkan untuk menuntun balon dan ring ke daerah yang bermasalah. Balon dalam keadaan kempis diletakkan di bagian luar kabel penuntun dan di lapisan terluar akan diletakkan ring atau stent.

Setelah berada di dalam, balon dikembangkan, sehingga ring juga ikut mengembang. Dengan demikian, rongga arteri yang sebelumnya tersumbat akibat penumpukan plak menjadi lebih lebar. Setelah ring terpasang, balon dikempiskan lagi dan dikeluarkan.

Adapun dalam prosedur atau teknis katerisasi membutuhkan waktu sekitar setengah jam, sedangkan pemasangan ring jantung membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam.

“Itu tergantung dari sulitnya lokasi dan tipe penyempitan pembuluh darah koroner,” lanjut Vito.

Setelah ring jantung dipasang, pasien disarankan untuk banyak minum air putih. Untuk mengatasi rasa sakit pada luka bekas sayatan, dokter akan memberikan obat pereda nyeri. Di samping itu, obat antikoagulan mungkin juga bisa diberikan untuk mencegah terbentuknya gumpalan atau bekuan darah.

Sepanjang masa pemulihan, pasien diminta untuk membatasi semua aktivitas fisik, termasuk menyetir kendaraan bermotor. Meski diperbolehkan untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dokter menganjurkan untuk melakukannya secara perlahan dan bertahap, setidaknya selama satu minggu setelah menjalani pembedahan.

Selain itu, selama masa pemulihan pasca-pemasangan ring jantung, dokter akan meresepkan obat untuk menjaga agar tidak terjadi penyempitan ulang di lokasi yang telah terpasang ring jantung. Pasien disarankan memperbanyak makanan sehat, seperti sayur dan buah serta rajin beraktivitas fisik.

Read More

Waspada Gejala Virus Corona

Pada awal tahun 2020, sebuah virus baru menjadi pokok perbincangan berita utama di seluruh dunia karena kecepatan penularannya yang begitu cepat. Berasal dari sebuah pasar di kota Wuhan, Cina, pada Desember 2019 silam, virus Corona menyebar hingga ke Amerika Serikat dan Filipina. Virus yang secara resmi diberi nama SARS-CoV-2 ini telah menyerang lebih dari 100 ribu jiwa dengan angka kematian mencapai lebih dari 5000 jiwa. Penyakit yang disebabkan karena sebuah infeksi SARS-CoV-2 disebut dengan nama COVID-19, yang mana merupakan kepanjangan dari coronavirus disease 19. Meskipun panik di seluruh dunia mulai tampak karean disebabkan oleh virus ini, risiko Anda tertular SARS-Cov-12 sangat kecil, kecuali Anda melakukan kontak langsung dengan orang-orang yang positif menderita penyakit tersebut.

Penyebab COVID-19

Virus Corona adalah sebuah virus zoonosis, dalam arti virus ini pertama kali berkembang pada hewan sebelum akhirnya menular ke manusia. Agar virus dapat menular lewat hewan ke manusia, seseorang harus melakukan kontak langsung dengan hewan yang membawa infeksi tersebut. Ketika virus mulai berkembang di tubuh manusia, virus Corona dapat menyebar dari satu orang ke orang lain melalui tetasan pernapasan atau droplet (zat basah yang bergerak di udara ketika Anda batuk atau bersin). Virus dapat menempel pada droplet tersebut dan dapat dihirup oleh orang lain melalui saluran pernapasan (batang tenggorokan dan paru-paru), tempat di mana virus dapat mulai menyebabkan infeksi. Meskipun, virus Corona tahun 2019 ini belum dihubungkan dengan hewan spesifik tertentu, para penliti percaya bahwa virus awalnya ditularkan lewat kelelawar ke hewan lain seperti ular dan kemudian ditularkan ke manusia. Penularan ini kemungkinan besar terjadi di pasar makanan di kota Wuhan, Cina.

Gejala COVID-19 yang wajib diwaspadai

Para dokter dan tenaga medis lain terus menemukan dan belajar hal-hal baru terkait virus ini setiap harinya. Sejauh ini, COVID-19 tidak langsung memberikan gejala apapun saat seseorang terjangkit virus. Anda dapat membawa virus selama 2 hari hingga 14 hari sebelum memperhatikan ada tanda-tanda gejala penyakit. Gejala yang paling umum ditemukan dan dihubungkan dengan virus Corona termasuk sesak nafas, batuk yang semakin parah, demam yang secara perlahan akan naik suhunya. Hingga saat ini, gejala-gejala lengkapnya masih terus diinvestigasi.

Virus corona 2019 lebih mematikan jika dibandingkan dengan flu musiman. Di Amerika Serikat sendiri, sekitar 0.06 hingga 0.1 persen orang-orang yang terkena penyakit flu musiman selama 2019 hingga 2020 (tepatnya di bulan Februari) meninggal, berbeda jauh dibandingkan dengan angka 3 persen kematian dari kasus COVID-19 di Amerika. Flu musiman juga memiliki gejala yang berbeda dengan penyakit Corona. Gejala-gejala tersebut misalnya batuk, hidung tersumbat atau meler, bersin, tenggorokan yang radang, demam, sakit kepala, kelelahan, menggigil, dan sakit di seluruh tubuh.

Siapa saja yang memiliki risiko tinggi penyakit ini?

Anda akan memiliki risiko yang tinggi terkena SARS-CoV-12 apabila Anda melakukan kontak langsung dengan orang yang membawa virus corona tersebut, terutama apabila ada paparan dengan air liur atau Anda berada di dekat mereka ketika mereka bersin dan batuk. Selain itu, orang tua sangat rentan menderita penyakit ini. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada bulan Januari silam menyatakan bahwa rata-rata usia yang terkena virus ini adalah 45 tahun ke atas dengan 2/3 kasus ditemukan pada pria.

Read More