Category Parenting

Menakar Gejolak Psikologis Anak Yatim; Kehidupan Sosialnya Rawan!

Anak yatim dapat tumbuh dengan baik lewat pola asuh positif

Frasa anak yatim bukan lagi menjadi sesuatu yang asing di telinga kita, masyarakat Indonesia. Keberadaan mereka selalu spesial lantaran konstruksi sosial yang terbentuk di sini membuat mereka menempati posisi yang penting di lingkup sosial kemasyarakatan.

Menurut KBBI, anak yatim adalah mereka yang sudah tidak berbapak lagi (lantaran ditinggal mati). Jika merujuk ke sana, siapa pun mereka, berapa pun usianya, mereka akan tetap disebut anak yatim jika sudah ditinggal mati bapaknya.

Namun, dalam konsep islam, mereka dapat disebut anak yatim hanya jika ditinggal sang ayah pergi menghadap Yang Kuasa, saat usianya belum akil baligh. Dengan demikian, istilah anak yatim menurut syariat Islam memiliki makna yang lebih spesifik.

Kehilangan orang tua pada masa kanak-kanak akan selalu menjadi mimpi buruk bagi setiap anak-anak. Kehidupan mereka cenderung pasti mengalami perubahan. Pendalaman mereka, utamanya mental dan sisi psikologis tentu juga akan terdampak. Begitu pula dengan kehidupan sosialnya yang mesti diperhatikan betul.

Anak yang kehilangan ayah atau ibu hampir pasti mengalami guncangan yang sangat besar dalam kehidupannya. Pasalnya, ayah dan ibu adalah figur penting dalam kehidupan anak. Ketika ia kehilangan salah satunya, maka ia akan kehilangan sosok pengayom yang merawat, melindungi, dan memberi kasih sayang tanpa syarat.

Kondisi tersebut barang tentu membawa dampak terhadap kondisi sosial dan dinamika kejiwaan yang signifikan, seperti:

  • Perubahan Struktur Keluarga dan Tempat Tinggal

Susunan keluarga anak menjadi berubah dengan tidak adanya kedua orang tua atau salah satunya. Tugas-tugas kepala keluarga dan/atau ibu rumah tangga dialihkan kepada orang lain. Sebagian anak harus berpindah tempat tinggal karena diasuh oleh keluarga baru atau dititipkan ke panti asuhan. Di antaranya bahkan ada juga yang harus berpisah dengan saudara-saudara kandung karena pengasuhan mereka diserahkan kepada keluarga-keluarga yang berbeda.

  • Hilangnya Ikatan Emosional

Dalam ilmu jiwa, ikatan emosional dengan orang lain yang saling membutuhkan disebut dengan attachment. Kepergian orang tua dapat menyebabkan terputusnya attachment yang paling utama. 

Trauma ini dapat terulang bila pengasuhan anak dialihkan kepada orang lain untuk kedua kalinya, setelah ia berhasil membentuk attachment dengan pengganti ibunya. Perpisahan yang traumatis semacam ini dapat menyebabkan anak tumbuh menjadi orang dewasa yang rendah diri, sulit mempercayai orang lain, enggan berumah tangga, dan kurang memiliki kematangan moral dan sosial.

  • Berkurangnya Dukungan Finansial

Dengan asumsi bahwa ayah mengemban tugas sebagai pencari nafkah, maka meninggalnya ayah akan mempengaruhi kondisi keuangan keluarga. Banyak di antara anak yatim yang mengalami kekurangan biaya untuk memenuhi kebutuhan pokoknya, termasuk pendidikan.  Dari sana, biasanya muncul masalah-masalah baru dalam kehidupan sosialnya.

Satu contoh adalah ketika mereka memilih untuk berhenti sekolah dan bekerja. Di dunia kerja, anak-anak rentan mengalami eksploitasi dalam berbagai bentuk oleh orang-orang dewasa yang tidak bertanggung jawab.

  • Berkurangnya Perlindungan

Umumnya anak mempunyai ayah dan ibu sebagai pelindung mereka, khususnya dalam mencegah perlakuan tidak layak dari orang lain, baik dalam keluarga maupun lainnya. Pada kenyataannya, ada anak-anak yang sungguh-sungguh membutuhkan kehadiran ayah atau ibu untuk mencegah tindak kekerasan dari anggota keluarga lain. Ketika ayah dan/atau ibu meninggal, anak pun menghadapi risiko berkurang atau bahkan hilangnya perlindungan.

Beberapa penelitian terhadap sejumlah anak yatim atau piatu menunjukkan bahwa anak-anak ini lebih rentan mengalami perlakuan diskriminatif dan tindakan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) dibandingkan anak-anak lain yang memiliki orang tua lengkap.

  • Risiko Trauma Tambahan

Dalam sebuah penelitian ditemukan fakta bahwa saat mencapai usia 13 tahun, semua anak yatim atau piatu telah mengalami sedikitnya satu peristiwa yang berpotensi menyebabkan trauma setelah meninggalnya orang tua. Semakin muda usia anak, semakin besar pula risikonya untuk mengalami tindak kekerasan.

***

Dari apa yang tertulis di atas mengenai dampak risiko dari meninggalnya orang tua terhadap kondisi psikologis anak membuat kita mengerti betul bahwa pendampingan adalah salah satu yang terpenting bagi anak yatim dalam melanjutkan hidupnya.

Orang-orang yang ada di sekitar anak yatim harus membentuk kondisi lingkungan yang kondusif untuk mereka agar tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan baik sehingga mereka tetap layak mendapatkan kehidupan yang ideal di masa yang akan datang.

Read More